Jumat, 14 November 2025

“Baid Rindu dalam Temaram”

 

Bukankah wajar bila kudekap kerinduan ini?
Saat temaram cahaya membawa sepenggal sketsa wajahmu,
menyelinap lembut di sela napas malam yang lembab oleh sepi.
Wajahmu menari dalam benakku,
berbaur bersama jiwa-jiwa labil yang terlena oleh asmara,
dan aku, terperangkap di dalamnya  tanpa daya, tanpa arah.

Kaulah baid doa yang menghiasi setiap goresan penaku,
risalahmu adalah kalimat terindah dalam setiap bait kata.
Kau kecup jemariku dalam imaji yang samar,
dan aku pun mendekap udara, seolah tubuhmu masih di sana.
Ah, mungkin aku kembali berhalusinasi,
tentangmu, tentang kita,
tentang kisah sumbang yang tak seharusnya tumbuh namun enggan padam.

Rindu ini menjelma jadi doa,
cinta ini menjelma jadi luka yang indah,
dan aku berdiri di antara keduanya 
antara ingin melupakan, dan tak sanggup kehilangan.

Sungguh, aku ingin melupakanmu,
namun setiap kali kututup mata,
kau justru hadir lebih nyata dari yang kupinta.
Sanggupkah aku? Entahlah  (Toto Cy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar