Sabtu, 07 Februari 2026

Tak Pernah Meminta Memiliki (Baid Do'a Dalam Diam)


Rindu ini menjelma doa yang tak pernah berani kusebutkan namamu dengan lantang.
Ia hanya berbisik lirih di sela-sela sujud, seperti hujan yang jatuh diam-diam ke tanah orang lain.
Aku mencintaimu dengan cara paling sunyi: membiarkan hatiku menyebutmu, sementara bibirku belajar melupakan.
Cinta ini tak meminta pulang, ia hanya ingin tetap hidup meski tak punya alamat.

Kau hadir seperti senja yang indah, namun selalu berakhir gelap bagi mataku.
Wajahmu adalah cahaya, tetapi aku hanyalah bayang yang tak boleh mendekat.
Hatiku tahu batas, namun perasaanku sering memberontak,
sebab mencintaimu adalah luka yang aneh,..perih, tetapi terasa hangat,
seperti api yang membakar namun enggan kupadamkan.

Aku berdiri di antara dua jurang:
ingin melupakan agar waras tetap terjaga,
dan tak sanggup kehilangan karena cinta ini telah menjadi bagian dari napasku.
Kenangan menatapku dengan mata hidup,
menyapaku setiap malam seolah berkata,
“Jangan pergi, meski kau tak pernah tinggal.”

Aku tak iri pada lelaki yang menggenggam tanganmu,
sebab aku tahu, cintaku bukan tentang menang atau memiliki.
Aku hanya penjaga rasa,
yang setia merawat perasaan sendiri agar tak melukai siapa pun.
Biarlah aku mencintaimu dalam diam,
seperti bulan yang setia menerangi laut,
meski tahu ombak tak pernah menjadi miliknya.

Dan jika kelak rindu ini benar-benar lelah,
biarlah ia berubah menjadi doa terakhir:
agar kau bahagia sepenuhnya,
meski bukan di sisiku.

Tangerang, Menjelang senja 07/02/26 (Toto Cahyoto)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar