SYAIR PUJANGGA LUKA (Toto Cahyoto, M.H.)

Tiada yang istimewa dari syair ini, namun inilah senjata yang penyair miliki untuk melawan perang dalam kegelisahan

Sabtu, 07 Februari 2026

Baid Rindu Terlarang

›
Kaulah baid doa yang menghiasi goresan penaku, setiap huruf menunduk, belajar khusyuk pada namamu yang kusebut lirih. Risalahmu menjelma ...

Noktah Terlarang

›
Ah, kau tak tahu, bidadari bermata indah, betapa sunyi dadaku ketika kau menjauh. Aku belajar berpura tabah, menjahit senyum di wajah yan...

Ujung Gaun

›
Ingin kupegang ujung gaunmu, bukan untuk menahan langkahmu, melainkan menjaga agar debu dunia tak berani singgah di keindahanmu. Sebab d...

Lentera Rindu

›
Safana di malam buta terbentang sunyi, seperti halaman kosong yang lupa caranya ditulis. Tiadalah kau bisa pulang dalam remang lentera, s...

Perjalanan Dalam Diam

›
  Kau bukan pergi, sayang, kau hanya pulang lebih dahulu, menyusuri jalan cahaya yang belum mampu kuikuti dengan langkah duniawi. Keper...

Bayu di Ujung Kota

›
Menerpa mimpi laksana bayu yang mengusap lembut senja, ia datang tanpa suara, membawa sisa hangat hari yang enggan benar-benar pergi. An...

Fatamorgana Rindu

›
Remang cahaya membawa atma pergi, perlahan meninggalkan tubuh yang lelah oleh nalar. Di titik itu, logika menyerah dengan pasrah, membiar...
›
Beranda
Lihat versi web
Diberdayakan oleh Blogger.