Sabtu, 07 Februari 2026

Fatamorgana Rindu

Remang cahaya membawa atma pergi,
perlahan meninggalkan tubuh yang lelah oleh nalar.
Di titik itu, logika menyerah dengan pasrah,
membiarkan waktu berdesah lembut
seperti angin yang membujuk daun agar jatuh tanpa perlawanan.
Aku melangkah bukan dengan kaki,
melainkan dengan kenangan yang menuntun arah.

Tirus pipimu, berhiaskan bayang dagu nan anggun,
hadir sebagai garis cahaya dalam gelap ingatan.
Wajahmu bukan sekadar rupa,
ia adalah peta yang menyesatkan sekaligus menenangkan.
Tatapmu menumbuhkan musim di dadaku,
hangat, lalu gugur tanpa sempat kupetik.
Aku belajar bahwa keindahan tak selalu ingin dimiliki,
kadang ia hanya ingin dikenang dengan hormat.

Jiwa ini menyusuri safana kenangan,
padang luas tanpa batas,
tempat langkah-langkah lama masih membekas
meski arah pulang telah lama hilang.
Di sana, rindu menjelma fatamorgana:
terlihat nyata dari kejauhan,
namun lenyap saat kucoba mendekat.
Aku tahu ia tipu daya,
namun hatiku tetap haus,
tetap berharap pada bayangan yang menjanjikan air.

Malam memeluk sunyi dengan kesabaran tua,
sementara aku duduk di antara ada dan tiada.
Namamu kusebut dalam bahasa yang tak bersuara,
disimpan rapat agar tak melukai takdir siapa pun.
Cinta ini kupelihara seperti api kecil,
cukup hangat untuk mengingat,
cukup redup agar tak membakar.

Dan jika esok cahaya kembali terang,
biarlah rindu ini tetap tinggal di balik remang.
Ia tak perlu disembuhkan,
sebab dari luka yang tak berdarah inilah
aku belajar:
bahwa mencintai adalah perjalanan jiwa,
bukan tujuan untuk memiliki.

Suka Tani Senja Kala 07/02/26 (Toto Cahyoto, MH.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar