Menerpa mimpi laksana bayu yang mengusap lembut senja,
ia datang tanpa suara, membawa sisa hangat hari
yang enggan benar-benar pergi.
Anai melambai, menimang kata di ujung waktu yang kian renta,
seperti kenangan yang belajar berjalan tertatih,
namun tetap setia menyapa siapa pun yang bersedia menunggu.
Di antara detik yang melambat,
aku menangkap bisik masa lalu
yang tak pernah selesai bercerita.
Aku adalah budak belantara,
terlahir dari tanah yang akrab dengan embun dan akar.
Namun kini terkurung di antara rimba yang kian menyempit
dan kotak-kotak kaca yang memantulkan wajah asingku sendiri.
Gedung-gedung menjulang bagai doa yang lupa arah,
berkilau, namun dingin,
menyebut namaku tanpa pernah mengenalku.
Langkahku bergema di trotoar,
riuh, tetapi hampa makna.
Di kota ini, waktu berlari tanpa menoleh,
menggilas rindu, melipat sunyi,
lalu menjualnya sebagai kesibukan.
Aku berdiri di persimpangan rasa,
mencari hening di tengah klakson dan cahaya.
Hati ini rindu pada bahasa angin,
pada senyap yang tak perlu diterjemahkan,
pada malam yang cukup gelap
untuk membuat bintang berani menyala.
Jika kelak aku pulang,
biarlah bukan sebagai pelarian,
melainkan sebagai jiwa yang menemukan kembali akarnya.
Sebab di antara sunyi dan riuh kota yang tak kenal makna,
aku belajar:
manusia bukan milik gedung dan waktu,
melainkan milik ruang dalam dirinya
yang masih mampu mendengar bayu
mengusap senja dengan sabar.
Tangerang 07/02/26 (Toto Cahyoto, MH.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar