setiap huruf menunduk, belajar khusyuk
pada namamu yang kusebut lirih.
Risalahmu menjelma kalimat terindah
dalam baid-baid kata
tak selesai kubaca, tak sanggup kulepaskan,
seperti malam yang enggan berpisah dari sunyi.
Kau kecup jemariku dalam khayal yang lembut,
dan aku mendekap bayangmu
seolah waktu bersedia berhenti sejenak.
Ah, aku berhalusinasi lagi
tentangmu, tentang kita,
tentang kisah sumbang nan terlarang
yang tumbuh diam-diam di sela iman dan hasrat.
Ia indah karena rahasia,
perih karena tak boleh bernama.
Rindu berputar seperti tinta
yang tumpah di tepi halaman,
mencari bentuk agar tak dibaca orang.
Aku tahu, ini asa asmara
yang seharusnya kulupakan,
namun lupa kerap menolak perintah.
Ia bertanya balik:
jika rasa telah jujur,
mengapa harus dibunuh?
Maka aku menyimpannya sebagai doa yang tahu diri,
tak meminta pulang, tak memaksa tinggal.
Biarlah cinta ini belajar menahan,
menjadi baid yang kupeluk diam-diam
hingga suatu hari aku mampu menjawab:
sanggupkah?
Entah.
Yang pasti, malam masih setia
membacakan namamu
tanpa suara.
________________________________________________________
Suara Hati 07/02/26 (Toto Cahyoto, MH.)

_1.jpg)
_1.jpg)
.jpg)
