Ia menjadi saksi bisu pertemuan dua jiwa
yang hanya sempat saling menyapa lewat tatap,
lalu berpisah sebelum keberanian menemukan bentuknya.
Malam menyimpan cerita itu rapat-rapat,
menjahitnya ke dalam sunyi,
agar tak semua rindu harus bersuara.
Ada pertemuan yang tak ditakdirkan untuk tinggal,
hanya singgah sebentar,
seperti embun yang menyentuh daun sebelum pagi menjemputnya pergi.
Kita adalah dua arah angin,
bertemu di persimpangan rasa,
lalu kembali ke tujuan masing-masing,
membawa sisa hangat yang tak pernah benar-benar dingin.
Cinta ini tumbuh tanpa pernah menyentuh,
seperti akar yang saling meraba di bawah tanah,
hidup, namun tak terlihat.
Ia tidak meminta pelukan,
tidak menuntut janji,
hanya ingin diakui sebagai rasa yang pernah ada.
Di sanalah keindahannya bersemayam:
pada ketulusan yang memilih menahan,
pada kesadaran bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Aku menyebut namamu dalam diam,
menitipkannya pada detak waktu dan hembusan doa yang lirih.
Rindu belajar menjadi dewasa,
ia menunduk, bukan karena kalah,
melainkan karena tahu batas yang tak boleh dilanggar.
Hati ini menjaga jarak seperti pantai pada laut,
dekat, namun tak pernah benar-benar menyatu.
Kelak, jika malam kembali bertanya tentang kita,
biarlah rembulan menjawab dengan cahaya yang tenang:
bahwa pernah ada dua jiwa
yang saling memahami tanpa saling menggenggam,
saling mencintai tanpa saling memiliki.
Dan cinta itu meski tak tersentuh
tetap hidup,
abadi dalam doa yang tak pernah meminta pulang.
Sukatani, Senja kala 07/02/26 (Toto Cahyoto, MH.)
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar