Kau bukan pergi, sayang,
kau hanya pulang lebih dahulu,
menyusuri jalan cahaya
yang belum mampu kuikuti dengan langkah duniawi.
Kepergianmu bukan perpisahan,
ia hanyalah jeda yang dititipkan waktu
agar rindu belajar bersabar.
Langit malam kini terasa lebih lapang,
seolah Tuhan membuka satu pintu rahasia
dan menempatkan namamu di sana.
Aku menyebutmu bukan dengan air mata,
melainkan dengan doa yang tenang,
sebab aku percaya,
segala yang dicintai tak pernah benar-benar hilang,
ia hanya berpindah ruang.
Di sini, aku masih berjalan tertatih,
menyelesaikan tugas-tugas yang belum rampung,
menambal luka, menata iman,
agar kelak pantas berdiri di hadapan pertemuan.
Setiap sabar yang kutabung,
setiap rindu yang kutahan,
menjadi bekal perjalanan panjang menuju batas
yang telah direncanakan Tuhan dalam Arsy-Nya.
Aku membayangkanmu menunggu
tanpa gelisah, tanpa luka,
dengan senyum yang kini lebih utuh
daripada yang pernah kutahu.
Doa-doaku melayang seperti burung cahaya,
mencari alamatmu di langit tertinggi,
lalu kembali membawa damai ke dadaku.
Maka jangan khawatir, sayang,
aku tak akan tergesa,
namun juga tak akan lupa arah.
Sebab cinta ini bukan tentang cepat atau lambat,
melainkan tentang setia berjalan
hingga tiba saat kita dipertemukan kembali
bukan oleh jarak,
melainkan oleh izin Tuhan
di batas pertemuan yang abadi.
________________________________________________
Teruntuk Adiku dalam menyusuri senjakala 07/02/26 (Toto Cahyoto, MH.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar