Di antara deras hujan malam yang jatuh di pundak bumi, aku
kembali teringat caramu menatap langit dengan seolah ingin menangkap setiap
butir rahmat yang menyentuh rambutmu.
Pernah kau bertanya, pelan, hampir seperti rahasia:
“Bukankah setiap tetes hujan membawa doa?”
Dan aku tak sanggup menjawabnya dengan kata-kata, maka aku rangkul bahumu agar langit tahu, akulah yang ingin menjadi
pelindung cintamu, bukan hujan itu.
Aku ingin menjadi payung, agar hujan cemburu melihatmu lebih
memilih hangatnya pelukanku.
Karena bukankah butir hujan ingin menyentuhmu?
Namun kau justru bersandar dalam dekapan, seolah hanya dadaku yang kau percaya
untuk menjadi tempat pulang dari segala penat dan segala renjana.
Aku tak ingin ujung gaunmu basah, maka biarkan aku
memegangnya agar tanah tak mencuri cantikmu.
Dan payung ini, biarkan kita genggam berdua.
Karena di bawah kelana air yang jatuh dari langit itu, kita bukan hanya
berteduh kita sedang menulis babak
paling rahasia dari rindu.
Kita menjadi satu dalam kesyahduan yang tak memiliki nama.
Dan hujan malam ini bukan cuaca ia
adalah saksi.
Ia adalah tinta yang mengabadikan kita dalam diam.
Membuat semua menjadi kembang rindu yang tumbuh di antara sketsa waktu bahwa cinta ini… pernah sedekat itu.
(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam
23: 55, 08/11/25 _Toto Cy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar