Kemarin saat kita bersama dalam satu waktu,
kau bisikan kerinduan yang tak pernah mampu kau lukis.
Gemuruh membuncah di dada kiriku
sementara malam menghantar diam,
aku terperangkap dalam pusaran gairah muda yang tak lagi muda,
korneamu bangkitkan aku dalam keinginan seutuhnya,
walau ku tahu kemuliaan telah melingkar dalam lentik jemarimu.
Malam mendadak menjadi altar yang tak berkubah,
dan kita berdoa tanpa bahasa,
hanya dengan sorot mata yang saling meneguk rahasia,
seperti dua pelaut yang bertemu di dermaga asing,
namun tak berhak menanyakan nama pelabuhan masing-masing.
Ada garis terlarang yang kita tahu tak boleh dilampaui,
namun getar–baris demi baris–menyucuk akal
seperti desir angin yang menguji nyala lampu.
Aku ingin menafsir ulang makna “saling merindu”
tanpa menodai apa pun yang telah disucikan waktu,
ingin menyelami samudera yang hanya boleh dipandang
namun tak boleh disentuh lebih dalam.
Dan di tengah semua itu,
aku adalah penjelajah yang tak punya peta,
yang hanya punya dada sebagai kompas,
serta sepasang mata yang tak berani lagi berlama-lama
menatapmu secara terang-terangan.
Karena ada cinta
yang dicipta bukan untuk dimenangkan,
melainkan untuk dipikul sebagai rahasia paling anggun:
cinta yang memudar di bibir,
namun justru abadi di dalam dada.
(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam
08/11/25 _Toto Cy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar