Sabtu, 08 November 2025

Yang Terlarang dalam Sunyi

 

Safana di malam buta,
tiadalah kau bisa pulang dalam remang lentera,
dan aku mematri rindu dari garis samar sketsa wajahmu
yang tersisa sebagai ingatan, bukan lagi sebagai pelukan.

Laksana bintang yang menemani malam,
dan sinar bulan yang justru membuat bintang tampak tiada,
aku terasing dalam pusaran awan,
seperti jiwa yang ingin turun ke bumi namun tak mendapat izin dari takdir.

Kau adalah pembuat kerinduan,
bahkan auramu adalah bait-bait doa dalam diamku,
yang tak pernah kulafalkan lantang,
karena aku tahu ada batas sakral yang tak boleh kusentuh dengan sembarang rasa.

Namun entah doa macam apa yang layak terlantunkan
ketika kusadari bahwa rasa ini  sepenuhnya terlarang.

Cinta semacam ini bukan untuk diumumkan,
bukan juga untuk diperdebatkan,
tetapi untuk dipendam dalam ruang paling sunyi dari dada
tempat air mata dan keberanian saling berdamai.

Jika kelak dunia menuduhku sebagai penyimpan rahasia,
biarlah aku menerimanya tanpa sangkalan,
karena mencintaimu dalam diam adalah cara paling mulia
untuk tidak merobohkan apa yang telah disucikan oleh ikrar dalam altar

Biarlah hanya Tuhan yang tahu,
bahwa pernah ada satu hati
yang mencintaimu tanpa pernah meminta kembali.

(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 23: 47, 12/01/18 _Toto Cy)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar