Ingin kupegang ujung gaunmu,
agar jumput debu tak mengotorinya,
sebab dalam pandanganku kau bukan sekadar wujud,
melainkan kesucian rasa yang tak ingin kusentuh dengan kesalahan.
Namun aku hilang dalam balik bayang,
seperti waktu yang hanya lewat tanpa memiliki arti pada hidupmu.
Bukankah aku memang hanya detik yang singgah,
seperti angin yang datang tanpa izin dan pergi tanpa pamit?
Kaulah risalat yang menjadi teman dalam setiap doa–doa yang
kusembunyikan,
risalat yang menjadikan satu dua kata menjelma syair yang tertata rapi dalam
dada.
Kaulah chord yang menjadikan desir angin berubah menjadi sebuah nada,
yang membuat sunyi terdengar seperti lagu rahasia yang hanya diketahui oleh
kita.
Dan kaulah risalat yang menjadikan aku pemuja dalam diam,
pemuja yang tidak diberi kesempatan untuk mengubah takdir,
namun masih diberi ruang untuk merasakan rindu yang tidak pernah retak.
Cinta ini memang tak harus memilikimu,
cinta ini hanya butuh kesempatan untuk tetap bernapas,
meski dalam bayang, meski dalam hening,
meski dalam jarak yang tak pernah bisa dititipkan pelukan.
Biarlah aku menjadi nama yang hanya kau temui dalam sunyi,
sebab mencintaimu sudah cukup menjadi alasan
bahwa aku pernah hidup — lebih dari sekadar waktu.
(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam
23: 35, 08/11/25 _Toto Cy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar