Ah, kau tak tahu bidadari bermata indah
Aku harus berpura tabah
Aku bak cawan kosong saat kau hilang dalam bayang
Sungguh ini yang terdalam,
Walau ku tahu ini terlarang.
Malam adalah kitab sunyi yang tak pernah selesai kubaca,
dan engkau adalah ayat rahasia
yang kutandai dengan getar
namun tak pernah berani kucetak menjadi suara.
Aku menadah rindu seperti embun menadah cahaya,
menyimpan rahasia di lipatan dada
seperti kelopak mawar yang terluka
tetapi tetap memilih tampak indah.
Kau adalah desir jauh yang menabuh kalbu,
seperti angin yang tak dapat kusentuh
namun selalu kubiarkan menampar kesadaranku.
Sejak mengenalmu,
aku belajar bahwa ada cinta
yang tak boleh menyebut nama dirinya sendiri,
ada rasa yang hanya boleh menjadi asap
bukan api yang berkobar.
Dan aku adalah pecahan langit
yang memilih jatuh sebagai bintang jatuh diam-diam,
tanpa bunyi, tanpa tepuk tangan,
tanpa perlu saksi menyaksikan retaknya.
Aku ikhlas menjadi rahasia
yang hanya bernafas di balik retina,
karena aku tahu
tak setiap cinta dicipta untuk bersanding,
ada cinta yang hanya dilahirkan
untuk menjadi lukisan paling sendu dalam ruang batin.
Karena yang paling bersinar
kadang justru yang paling tak boleh disentuh.
(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam
08/11/25 _Toto Cy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar