Jumat, 14 November 2025

“Baid Rindu dalam Temaram”

 

Bukankah wajar bila kudekap kerinduan ini?
Saat temaram cahaya membawa sepenggal sketsa wajahmu,
menyelinap lembut di sela napas malam yang lembab oleh sepi.
Wajahmu menari dalam benakku,
berbaur bersama jiwa-jiwa labil yang terlena oleh asmara,
dan aku, terperangkap di dalamnya  tanpa daya, tanpa arah.

Kaulah baid doa yang menghiasi setiap goresan penaku,
risalahmu adalah kalimat terindah dalam setiap bait kata.
Kau kecup jemariku dalam imaji yang samar,
dan aku pun mendekap udara, seolah tubuhmu masih di sana.
Ah, mungkin aku kembali berhalusinasi,
tentangmu, tentang kita,
tentang kisah sumbang yang tak seharusnya tumbuh namun enggan padam.

Rindu ini menjelma jadi doa,
cinta ini menjelma jadi luka yang indah,
dan aku berdiri di antara keduanya 
antara ingin melupakan, dan tak sanggup kehilangan.

Sungguh, aku ingin melupakanmu,
namun setiap kali kututup mata,
kau justru hadir lebih nyata dari yang kupinta.
Sanggupkah aku? Entahlah  (Toto Cy)

Saat Cinta Menjadi Doa

 

Kini segalanya menjadi tenang,
seperti laut yang berhenti bergelombang setelah badai reda.
Rinduku tak lagi berteriak,
ia kini hanya berbisik pelan di sudut hati,
seperti doa yang tak meminta apa-apa selain ketenteraman.

Aku belajar bahwa cinta sejati bukanlah kepemilikan,
melainkan keikhlasan melepaskan seseorang
tanpa menghapusnya dari ingatan.
Sebab yang tulus tak perlu disimpan di genggaman,
cukup diletakkan di ruang doa dan dibiarkan bernafas di sana.

Rembulan masih menjadi saksi,
bahwa pernah ada dua jiwa yang saling mencari dalam sunyi,
namun waktu memilih memisahkan agar mereka belajar arti abadi.
Kini aku tidak lagi menyesali pertemuan itu,
karena dari kehilangan, aku menemukan diriku sendiri.

Bila kelak kau temukan kebahagiaanmu,
jangan khawatir tentang rinduku 
ia telah menjelma cahaya lembut,
yang tak menyentuhmu, namun tetap menerangi jalanmu dari jauh.
Sebab cinta sejati, pada akhirnya,
akan selalu pulang pada keheningan 
dan menjadi doa yang tak pernah selesai.  (Toto Cy)

Saat Waktu Menghapus Jejak

 

Kini waktu berjalan tanpa suara,
menyapu sisa langkah kita di jalan yang pernah bernama rindu.
Tak ada lagi bisik lembut di telinga,
hanya gema kenangan yang sesekali mengetuk hati,
meminta diingat namun tak ingin diulang.

Aku telah belajar mencintaimu dalam diam,
tanpa tuntutan, tanpa keinginan untuk memiliki.
Sebab setiap rasa yang lahir dari keikhlasan
akan menemukan jalannya sendiri menuju abadi.

Rembulan masih setia menggantung di langit,
menyimpan rahasia pertemuan dua jiwa yang sempat bersinggungan,
lalu berpisah sebelum sempat saling memeluk.
Namun di sanalah keindahannya 
cinta yang tak tersentuh, tapi tetap hidup dalam doa yang lirih.

Kini aku tak lagi mencari jejakmu di setiap senja,
sebab kutahu, bayangmu telah menjadi bagian dari diriku sendiri.
Dan bila suatu malam kau menatap langit yang sama,
mungkin kau akan tahu,
bahwa aku pernah mencintaimu
dengan cara paling sunyi 
tanpa berharap kembali. (Toto Cy)

“Asa di Balik Rembulan”

 

Kemarin, saat waktu menahan napas di antara kita,
kau bisikkan kerinduan yang tak pernah mampu kau lukis dengan kata.
Ada gemuruh yang membuncah di dada kiriku,
menggetarkan segala diam yang malam titipkan.
Aku terperangkap dalam pusaran gairah muda yang tak lagi muda,
namun masih menyala bagai bara yang enggan padam.

Korneamu, lentera kecil di mata senja,
membangkitkan aku dalam keinginan yang utuh namun terlarang.
Aku tahu, kemuliaan telah bersemayam lembut
di lingkar lentik jemarimu yang menyimpan rahasia cinta.

Remang cahaya membawa atma pergi,
saat logika menyerah pada desah waktu yang lembut.
Tirus pipimu, berhiaskan bayang dagu nan anggun,
menuntun jiwa ini menyusuri safana kenangan,
tempat rindu menjelma fatamorgana.

Aku hanyalah lelaki di balik rembulan,
menatapmu dari sela cahaya yang tak berani mendekat.
Terlena akan kisah asmara yang tak pernah lahir,
yang hanya meninggalkan sembilu rindu,
menyusup ke dada, urung menyatu,
namun abadi dalam sunyi yang tak pernah reda.  (Toto Cy)

Di Antara Sunyi

 

Rintik hujan telah reda, tapi sunyi masih bersarang di dada.
Aku mendengar gema langkahmu di antara detik yang berlalu pelan,
seolah waktu enggan benar-benar memisahkan.
Ada wangi yang tertinggal di udara samar,
seperti doa yang tak sempat selesai diucapkan.

Aku mencoba berdamai dengan kehilangan,
namun setiap tetes ingatan justru menjelma menjadi pisau halus,
menyayat perlahan, tanpa darah, tanpa suara.
Malam pun menjadi saksi,
bahwa rindu bisa hidup tanpa wujud,
menjelma bayangan di dinding yang menatapku kembali.

Kau tahu?
Kadang aku berbicara pada hujan yang jatuh di luar jendela,
berharap satu di antaranya membawa pesanmu.
Tapi yang datang hanya pantulan wajah sendiri
rapuh, namun tetap bertahan.

Kini aku mengerti,
bahwa mencintai bukan selalu memiliki,
kadang hanya merelakan dengan lembut,
dan membiarkan namamu menetap di tempat paling sunyi,
di ruang antara doa dan mimpi,
tempat jiwa tak lagi bertanya, hanya merasa.

Pesisir Muara angke 11/11/25 (Toto Cy)

“Sisa Hujan dan Bayangmu”

 

Karena malam ini masih ada sisa hujan,
dinginnya menyusup lembut ke sela rindu yang tak sempat padam.
Mata ini nanar, memaksa bayangmu hadir di antara tirai gelap,
menari di balik cahaya lampu yang redup,
memanggil gejolak jiwa yang sejak lama menjadi pecundang.

Haruskah ada air mata yang jatuh diam-diam,
atau cukup kubiarkan hati ini membatu dalam kerapuhan yang samar?
Kau pernah berbisik lirih,
“Biarkan air mata bersarang di kelopaknya,
jangan biarkan jatuh walau asmara menyiksamu sedemikian rupa.
Pantang bagi lelaki menangis karena kerinduan.”

Ah, kau tak tahu, bidadari bermata sendu,
betapa aku harus berpura tabah di hadapan sepi.
Aku hanyalah cawan kosong yang kehilangan isinya
saat kau lenyap di antara kabut bayang dan doa yang tertahan.

Sungguh, inilah rindu yang terdalam,
meski aku sadar cinta ini terlarang,
tetap saja aku meneguknya perlahan,
seperti racun yang kupilih sendiri,
demi merasakan kembali hidup—
meski hanya lewat bayangmu di sisa hujan malam ini.

Pesisir Muara angke (Toto Cy)

“Laksana Kata yang Menyepi”


Laksana kata yang terselip di antara jeda napas senja,
aku berdiri dalam remang antara malam dan kebisuan.
Tapak langkahku terjerat rambat akar-akar kering,
mencoba menembus tanah waktu yang enggan memberi arti.

Tak tampak daun gugur, walau angin menggoyah dedahanan;
seolah alam menahan napasnya, menunggu aku memahami isyaratnya.
Terlintas satu prakata klise
bahwa setiap hembusan angin justru menguatkan akar yang tertanam,
menjadikan pohon anai tetap tegak di ujung pantai,
menatap ombak datang dan pergi tanpa pernah lelah menanti.

Namun, adakah yang benar-benar pasti di antara pasang dan surut ini?
Bukankah setiap keyakinan pun bisa larut,
seperti jejak di pasir yang hilang digilas waktu?

Aku lalu belajar dari sunyi,
bahwa keteguhan bukanlah tentang tak goyah,
melainkan tentang keberanian untuk tetap berdiri,
meski dunia tak lagi memberi tempat bagi kata-kata.

Dan di antara bisu malam,
aku masih menulis bukan untuk didengar,
melainkan agar jiwaku tetap hidup,
laksana kata yang menolak sirna oleh gelap.

Pesisir Muara angke  (Toto Cy)

“Mimpi dan Bayang Asa”


Menerpa mimpi laksana bayu yang mengusap lembut senja,
Anai melambai menimang kata di ujung waktu yang kian renta.
Aku, budak belantara di antara rimba dan kotak-kotak kaca,
terlunta di antara sunyi dan riuh kota yang tak kenal makna.

Bimbang asa saat bersua,
antara ingin menetap atau pergi bersama ragu yang tak henti bertanya.
Andai cinta kau tanam dalam, hingga ke akar jiwa yang rahasia,
niscaya tiada duri menjerat dada, tiada hampa menanam nestapa.

Oh, andai saja aku tahu maksud hati yang tersembunyi di balik pandangmu,
tentu tiadalah lara menghias diri bagai kabut di pelupuk pagi.
Rupa lena takkan terpatri,
bila kasih tak disesali oleh waktu yang pergi perlahan.

Namun begitulah takdir, menulis kisah tanpa tinta pasti,
menyulam mimpi di antara luka dan arti.
Dan aku tetap di sini—
menggenggam senja, menunggu makna lahir dari sunyi,
agar cinta tak sekadar kata,
melainkan doa yang tak henti bergetar di dasar jiwa.

Pesisir Muara angke 11/11/25 (Toto Cy)