Menerpa mimpi laksana bayu yang mengusap lembut senja,
Anai melambai menimang kata di ujung waktu yang kian renta.
Aku, budak belantara di antara rimba dan kotak-kotak kaca,
terlunta di antara sunyi dan riuh kota yang tak kenal makna.
Bimbang asa saat bersua,
antara ingin menetap atau pergi bersama ragu yang tak henti bertanya.
Andai cinta kau tanam dalam, hingga ke akar jiwa yang rahasia,
niscaya tiada duri menjerat dada, tiada hampa menanam nestapa.
Oh, andai saja aku tahu maksud hati yang tersembunyi di
balik pandangmu,
tentu tiadalah lara menghias diri bagai kabut di pelupuk pagi.
Rupa lena takkan terpatri,
bila kasih tak disesali oleh waktu yang pergi perlahan.
Namun begitulah takdir, menulis kisah tanpa tinta pasti,
menyulam mimpi di antara luka dan arti.
Dan aku tetap di sini—
menggenggam senja, menunggu makna lahir dari sunyi,
agar cinta tak sekadar kata,
melainkan doa yang tak henti bergetar di dasar jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar