seperti halaman kosong yang lupa caranya ditulis.
Tiadalah kau bisa pulang dalam remang lentera,
sebab jarak telah menjelma arah
dan waktu menutup pintu tanpa suara.
Langkahmu menghilang di antara pasir dan angin,
meninggalkan jejak yang segera dihapus malam.
Aku mematri rindu dari garis samar sketsa wajahmu,
digambar dengan ingatan yang gemetar.Setiap lekuknya adalah doa yang tak sempat kusebut,
setiap bayangnya adalah pelukan
yang tertunda oleh takdir.
Wajahmu kini tinggal cahaya tipis di kepalaku,
seperti bulan yang tampak utuh
namun tak pernah bisa kugenggam.
Angin safana menyebut namamu perlahan,
menyapaku dengan bahasa kehilangan.
Di dadaku, cinta belajar berdiam,
menjadi perasaan yang tak lagi meminta hadir,
cukup diizinkan tinggal sebagai kenangan.
Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi:
menjaga jarak agar tak melukai,
merawat rindu agar tak berubah menjadi sesal.
Malam semakin tua,
lentera redup menua bersama harapanku.
Aku duduk di antara ada dan tiada,
menunggu sesuatu yang tak akan datang,
namun tak sanggup benar-benar pergi.
Cinta ini telah berpindah bentuk—
bukan lagi pelukan yang menghangatkan,
melainkan ingatan yang setia.
Dan jika kelak pagi menyapa safana,
biarlah ia menemukan aku masih di sini,
mencintaimu dengan tenang,
tanpa gaduh, tanpa tuntutan.
Sebab ada cinta yang tak ditakdirkan pulang,
ia hanya tinggal
sebagai cahaya kecil dalam gelap,
mengajarkan hati
cara merelakan dengan anggun.
__________________________________________
Rindu Malam, Sukatani 07/02/26 (Totot Cahyoto, MH.)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar