Ah, kau tak tahu, bidadari bermata indah,
betapa sunyi dadaku ketika kau menjauh.
Aku belajar berpura tabah,
menjahit senyum di wajah yang rapuh,
sementara hati runtuh perlahan
tanpa suara, tanpa saksi.
Aku bak cawan kosong
saat kau hilang dalam bayang.
Tak ada lagi yang menetap di dasar waktu,
hanya gema namamu
yang berputar-putar mencari ruang.
Setiap detik menjadi telaga rindu,
namun tak berani kuminum,
sebab kutahu haus ini terlarang.
Sungguh, ini rasa yang terdalam,
lahir bukan dari kehendak,
melainkan dari pertemuan jiwa
yang tak semestinya bersua.
Cinta ini tumbuh tanpa izin,
seperti bunga liar di tepi jurang
indah,
namun tak pernah dimaksudkan untuk dipetik.
Aku mencintaimu dengan cara yang paling diam,
menyembunyikannya di balik doa dan malam.
Biarlah rasa ini tinggal sebagai rahasia,
sebab tak semua yang tulus
ditakdirkan untuk dimiliki.
Jika kelak kau bahagia di jalan lain,
biarlah aku tetap di sini,
menyimpan cintaku sendiri
terlarang,
namun jujur hingga ke dasar jiwa.
________________________________
Malam Jingga Sukatani 07/02/26 (Toto Cahyoto, MH.)
_1.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar