Jumat, 14 November 2025

Di Antara Sunyi

 

Rintik hujan telah reda, tapi sunyi masih bersarang di dada.
Aku mendengar gema langkahmu di antara detik yang berlalu pelan,
seolah waktu enggan benar-benar memisahkan.
Ada wangi yang tertinggal di udara samar,
seperti doa yang tak sempat selesai diucapkan.

Aku mencoba berdamai dengan kehilangan,
namun setiap tetes ingatan justru menjelma menjadi pisau halus,
menyayat perlahan, tanpa darah, tanpa suara.
Malam pun menjadi saksi,
bahwa rindu bisa hidup tanpa wujud,
menjelma bayangan di dinding yang menatapku kembali.

Kau tahu?
Kadang aku berbicara pada hujan yang jatuh di luar jendela,
berharap satu di antaranya membawa pesanmu.
Tapi yang datang hanya pantulan wajah sendiri
rapuh, namun tetap bertahan.

Kini aku mengerti,
bahwa mencintai bukan selalu memiliki,
kadang hanya merelakan dengan lembut,
dan membiarkan namamu menetap di tempat paling sunyi,
di ruang antara doa dan mimpi,
tempat jiwa tak lagi bertanya, hanya merasa.

Pesisir Muara angke 11/11/25 (Toto Cy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar