Karena malam ini masih ada sisa hujan,
dinginnya menyusup lembut ke sela rindu yang tak sempat padam.
Mata ini nanar, memaksa bayangmu hadir di antara tirai gelap,
menari di balik cahaya lampu yang redup,
memanggil gejolak jiwa yang sejak lama menjadi pecundang.
Haruskah ada air mata yang jatuh diam-diam,
atau cukup kubiarkan hati ini membatu dalam kerapuhan yang samar?
Kau pernah berbisik lirih,
“Biarkan air mata bersarang di kelopaknya,
jangan biarkan jatuh walau asmara menyiksamu sedemikian rupa.
Pantang bagi lelaki menangis karena kerinduan.”
Ah, kau tak tahu, bidadari bermata sendu,
betapa aku harus berpura tabah di hadapan sepi.
Aku hanyalah cawan kosong yang kehilangan isinya
saat kau lenyap di antara kabut bayang dan doa yang tertahan.
Sungguh, inilah rindu yang terdalam,
meski aku sadar cinta ini terlarang,
tetap saja aku meneguknya perlahan,
seperti racun yang kupilih sendiri,
demi merasakan kembali hidup—
meski hanya lewat bayangmu di sisa hujan malam ini.
Pesisir Muara angke (Toto Cy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar