Jumat, 14 November 2025

“Laksana Kata yang Menyepi”


Laksana kata yang terselip di antara jeda napas senja,
aku berdiri dalam remang antara malam dan kebisuan.
Tapak langkahku terjerat rambat akar-akar kering,
mencoba menembus tanah waktu yang enggan memberi arti.

Tak tampak daun gugur, walau angin menggoyah dedahanan;
seolah alam menahan napasnya, menunggu aku memahami isyaratnya.
Terlintas satu prakata klise
bahwa setiap hembusan angin justru menguatkan akar yang tertanam,
menjadikan pohon anai tetap tegak di ujung pantai,
menatap ombak datang dan pergi tanpa pernah lelah menanti.

Namun, adakah yang benar-benar pasti di antara pasang dan surut ini?
Bukankah setiap keyakinan pun bisa larut,
seperti jejak di pasir yang hilang digilas waktu?

Aku lalu belajar dari sunyi,
bahwa keteguhan bukanlah tentang tak goyah,
melainkan tentang keberanian untuk tetap berdiri,
meski dunia tak lagi memberi tempat bagi kata-kata.

Dan di antara bisu malam,
aku masih menulis bukan untuk didengar,
melainkan agar jiwaku tetap hidup,
laksana kata yang menolak sirna oleh gelap.

Pesisir Muara angke  (Toto Cy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar