Kau yang pertama
Menjauhlah sayang dari ujung ekor kornea
Karena saat kau mendekat aku luruh di terpa angin
Satu persatu terurai dalam pecahan cawan di dalam air
Rapuh dan pudar bagai
pelangi tertutup awan
Lalu redup dalam buai angin yang mulai merajut malam
Disini aku mencoba tuk melupakan bayang hadirmu
Pada saat hatiku mulai meredup, goncang dalam lindap lilin
Dan kau menjadi rintik hujan
Saat badai kegelisahan melandaku kini
Terpuruk??, bahkan mungkin aku sudah mengendap
Ketika asmara t’lah usai tanpa kata
Ini menjadi kecamuk
padahal tak pernah aku menabuh angin
Ingatlah,, aku hanya terbawa asa rindu
Saat katup kuntum melati hiasi altar rindu
Diantara tarian ikan ko’i yang menari di buih gemercik air
Diam !!
Behentilah kau berkaca,
tataplah satu bintang tuk temani rembulan
Dan tetaplah disitu
Di halaman gereja tanpa
bunga saat pertama kau mengenal aroma tubuhnya
Bisik angin tegarkan rasa
Ya,, rasa!! Rasa yang mana?
Rasa asmara yang pertama?
Ataukah rasa yang sudah mati rasa?
Jiwa ini limbung, rasaku membatu mengeras
Lalu terurai menjadi debu, sirna dalam kata yang tak pernah
terkata
‘kau yang pertama’
Jakarta 07/05/14 (Remember
sidabowa 98*listyany) _Toto Cy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar