Jumat, 14 November 2025

“Baid Rindu dalam Temaram”

 

Bukankah wajar bila kudekap kerinduan ini?
Saat temaram cahaya membawa sepenggal sketsa wajahmu,
menyelinap lembut di sela napas malam yang lembab oleh sepi.
Wajahmu menari dalam benakku,
berbaur bersama jiwa-jiwa labil yang terlena oleh asmara,
dan aku, terperangkap di dalamnya  tanpa daya, tanpa arah.

Kaulah baid doa yang menghiasi setiap goresan penaku,
risalahmu adalah kalimat terindah dalam setiap bait kata.
Kau kecup jemariku dalam imaji yang samar,
dan aku pun mendekap udara, seolah tubuhmu masih di sana.
Ah, mungkin aku kembali berhalusinasi,
tentangmu, tentang kita,
tentang kisah sumbang yang tak seharusnya tumbuh namun enggan padam.

Rindu ini menjelma jadi doa,
cinta ini menjelma jadi luka yang indah,
dan aku berdiri di antara keduanya 
antara ingin melupakan, dan tak sanggup kehilangan.

Sungguh, aku ingin melupakanmu,
namun setiap kali kututup mata,
kau justru hadir lebih nyata dari yang kupinta.
Sanggupkah aku? Entahlah  (Toto Cy)

Saat Cinta Menjadi Doa

 

Kini segalanya menjadi tenang,
seperti laut yang berhenti bergelombang setelah badai reda.
Rinduku tak lagi berteriak,
ia kini hanya berbisik pelan di sudut hati,
seperti doa yang tak meminta apa-apa selain ketenteraman.

Aku belajar bahwa cinta sejati bukanlah kepemilikan,
melainkan keikhlasan melepaskan seseorang
tanpa menghapusnya dari ingatan.
Sebab yang tulus tak perlu disimpan di genggaman,
cukup diletakkan di ruang doa dan dibiarkan bernafas di sana.

Rembulan masih menjadi saksi,
bahwa pernah ada dua jiwa yang saling mencari dalam sunyi,
namun waktu memilih memisahkan agar mereka belajar arti abadi.
Kini aku tidak lagi menyesali pertemuan itu,
karena dari kehilangan, aku menemukan diriku sendiri.

Bila kelak kau temukan kebahagiaanmu,
jangan khawatir tentang rinduku 
ia telah menjelma cahaya lembut,
yang tak menyentuhmu, namun tetap menerangi jalanmu dari jauh.
Sebab cinta sejati, pada akhirnya,
akan selalu pulang pada keheningan 
dan menjadi doa yang tak pernah selesai.  (Toto Cy)

Saat Waktu Menghapus Jejak

 

Kini waktu berjalan tanpa suara,
menyapu sisa langkah kita di jalan yang pernah bernama rindu.
Tak ada lagi bisik lembut di telinga,
hanya gema kenangan yang sesekali mengetuk hati,
meminta diingat namun tak ingin diulang.

Aku telah belajar mencintaimu dalam diam,
tanpa tuntutan, tanpa keinginan untuk memiliki.
Sebab setiap rasa yang lahir dari keikhlasan
akan menemukan jalannya sendiri menuju abadi.

Rembulan masih setia menggantung di langit,
menyimpan rahasia pertemuan dua jiwa yang sempat bersinggungan,
lalu berpisah sebelum sempat saling memeluk.
Namun di sanalah keindahannya 
cinta yang tak tersentuh, tapi tetap hidup dalam doa yang lirih.

Kini aku tak lagi mencari jejakmu di setiap senja,
sebab kutahu, bayangmu telah menjadi bagian dari diriku sendiri.
Dan bila suatu malam kau menatap langit yang sama,
mungkin kau akan tahu,
bahwa aku pernah mencintaimu
dengan cara paling sunyi 
tanpa berharap kembali. (Toto Cy)

“Asa di Balik Rembulan”

 

Kemarin, saat waktu menahan napas di antara kita,
kau bisikkan kerinduan yang tak pernah mampu kau lukis dengan kata.
Ada gemuruh yang membuncah di dada kiriku,
menggetarkan segala diam yang malam titipkan.
Aku terperangkap dalam pusaran gairah muda yang tak lagi muda,
namun masih menyala bagai bara yang enggan padam.

Korneamu, lentera kecil di mata senja,
membangkitkan aku dalam keinginan yang utuh namun terlarang.
Aku tahu, kemuliaan telah bersemayam lembut
di lingkar lentik jemarimu yang menyimpan rahasia cinta.

Remang cahaya membawa atma pergi,
saat logika menyerah pada desah waktu yang lembut.
Tirus pipimu, berhiaskan bayang dagu nan anggun,
menuntun jiwa ini menyusuri safana kenangan,
tempat rindu menjelma fatamorgana.

Aku hanyalah lelaki di balik rembulan,
menatapmu dari sela cahaya yang tak berani mendekat.
Terlena akan kisah asmara yang tak pernah lahir,
yang hanya meninggalkan sembilu rindu,
menyusup ke dada, urung menyatu,
namun abadi dalam sunyi yang tak pernah reda.  (Toto Cy)

Di Antara Sunyi

 

Rintik hujan telah reda, tapi sunyi masih bersarang di dada.
Aku mendengar gema langkahmu di antara detik yang berlalu pelan,
seolah waktu enggan benar-benar memisahkan.
Ada wangi yang tertinggal di udara samar,
seperti doa yang tak sempat selesai diucapkan.

Aku mencoba berdamai dengan kehilangan,
namun setiap tetes ingatan justru menjelma menjadi pisau halus,
menyayat perlahan, tanpa darah, tanpa suara.
Malam pun menjadi saksi,
bahwa rindu bisa hidup tanpa wujud,
menjelma bayangan di dinding yang menatapku kembali.

Kau tahu?
Kadang aku berbicara pada hujan yang jatuh di luar jendela,
berharap satu di antaranya membawa pesanmu.
Tapi yang datang hanya pantulan wajah sendiri
rapuh, namun tetap bertahan.

Kini aku mengerti,
bahwa mencintai bukan selalu memiliki,
kadang hanya merelakan dengan lembut,
dan membiarkan namamu menetap di tempat paling sunyi,
di ruang antara doa dan mimpi,
tempat jiwa tak lagi bertanya, hanya merasa.

Pesisir Muara angke 11/11/25 (Toto Cy)

“Sisa Hujan dan Bayangmu”

 

Karena malam ini masih ada sisa hujan,
dinginnya menyusup lembut ke sela rindu yang tak sempat padam.
Mata ini nanar, memaksa bayangmu hadir di antara tirai gelap,
menari di balik cahaya lampu yang redup,
memanggil gejolak jiwa yang sejak lama menjadi pecundang.

Haruskah ada air mata yang jatuh diam-diam,
atau cukup kubiarkan hati ini membatu dalam kerapuhan yang samar?
Kau pernah berbisik lirih,
“Biarkan air mata bersarang di kelopaknya,
jangan biarkan jatuh walau asmara menyiksamu sedemikian rupa.
Pantang bagi lelaki menangis karena kerinduan.”

Ah, kau tak tahu, bidadari bermata sendu,
betapa aku harus berpura tabah di hadapan sepi.
Aku hanyalah cawan kosong yang kehilangan isinya
saat kau lenyap di antara kabut bayang dan doa yang tertahan.

Sungguh, inilah rindu yang terdalam,
meski aku sadar cinta ini terlarang,
tetap saja aku meneguknya perlahan,
seperti racun yang kupilih sendiri,
demi merasakan kembali hidup—
meski hanya lewat bayangmu di sisa hujan malam ini.

Pesisir Muara angke (Toto Cy)

“Laksana Kata yang Menyepi”


Laksana kata yang terselip di antara jeda napas senja,
aku berdiri dalam remang antara malam dan kebisuan.
Tapak langkahku terjerat rambat akar-akar kering,
mencoba menembus tanah waktu yang enggan memberi arti.

Tak tampak daun gugur, walau angin menggoyah dedahanan;
seolah alam menahan napasnya, menunggu aku memahami isyaratnya.
Terlintas satu prakata klise
bahwa setiap hembusan angin justru menguatkan akar yang tertanam,
menjadikan pohon anai tetap tegak di ujung pantai,
menatap ombak datang dan pergi tanpa pernah lelah menanti.

Namun, adakah yang benar-benar pasti di antara pasang dan surut ini?
Bukankah setiap keyakinan pun bisa larut,
seperti jejak di pasir yang hilang digilas waktu?

Aku lalu belajar dari sunyi,
bahwa keteguhan bukanlah tentang tak goyah,
melainkan tentang keberanian untuk tetap berdiri,
meski dunia tak lagi memberi tempat bagi kata-kata.

Dan di antara bisu malam,
aku masih menulis bukan untuk didengar,
melainkan agar jiwaku tetap hidup,
laksana kata yang menolak sirna oleh gelap.

Pesisir Muara angke  (Toto Cy)

“Mimpi dan Bayang Asa”


Menerpa mimpi laksana bayu yang mengusap lembut senja,
Anai melambai menimang kata di ujung waktu yang kian renta.
Aku, budak belantara di antara rimba dan kotak-kotak kaca,
terlunta di antara sunyi dan riuh kota yang tak kenal makna.

Bimbang asa saat bersua,
antara ingin menetap atau pergi bersama ragu yang tak henti bertanya.
Andai cinta kau tanam dalam, hingga ke akar jiwa yang rahasia,
niscaya tiada duri menjerat dada, tiada hampa menanam nestapa.

Oh, andai saja aku tahu maksud hati yang tersembunyi di balik pandangmu,
tentu tiadalah lara menghias diri bagai kabut di pelupuk pagi.
Rupa lena takkan terpatri,
bila kasih tak disesali oleh waktu yang pergi perlahan.

Namun begitulah takdir, menulis kisah tanpa tinta pasti,
menyulam mimpi di antara luka dan arti.
Dan aku tetap di sini—
menggenggam senja, menunggu makna lahir dari sunyi,
agar cinta tak sekadar kata,
melainkan doa yang tak henti bergetar di dasar jiwa.

Pesisir Muara angke 11/11/25 (Toto Cy)

Sabtu, 08 November 2025

Di Antara Rindu dan Payung yang Kita Genggam

 

Di antara deras hujan malam yang jatuh di pundak bumi, aku kembali teringat caramu menatap langit dengan seolah ingin menangkap setiap butir rahmat yang menyentuh rambutmu.
Pernah kau bertanya, pelan, hampir seperti rahasia:
“Bukankah setiap tetes hujan membawa doa?”
Dan aku tak sanggup menjawabnya dengan kata-kata, maka aku rangkul bahumu  agar langit tahu, akulah yang ingin menjadi pelindung cintamu, bukan hujan itu.

Aku ingin menjadi payung, agar hujan cemburu melihatmu lebih memilih hangatnya pelukanku.
Karena bukankah butir hujan ingin menyentuhmu?
Namun kau justru bersandar dalam dekapan, seolah hanya dadaku yang kau percaya untuk menjadi tempat pulang dari segala penat dan segala renjana.

Aku tak ingin ujung gaunmu basah, maka biarkan aku memegangnya agar tanah tak mencuri cantikmu.
Dan payung ini, biarkan kita genggam berdua.
Karena di bawah kelana air yang jatuh dari langit itu, kita bukan hanya berteduh  kita sedang menulis babak paling rahasia dari rindu.

Kita menjadi satu dalam kesyahduan yang tak memiliki nama.
Dan hujan malam ini bukan cuaca  ia adalah saksi.
Ia adalah tinta yang mengabadikan kita dalam diam.
Membuat semua menjadi kembang rindu yang tumbuh di antara sketsa waktu  bahwa cinta ini… pernah sedekat itu.

(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 23: 55, 08/11/25 _Toto Cy)

Yang Terlarang dalam Sunyi

 

Safana di malam buta,
tiadalah kau bisa pulang dalam remang lentera,
dan aku mematri rindu dari garis samar sketsa wajahmu
yang tersisa sebagai ingatan, bukan lagi sebagai pelukan.

Laksana bintang yang menemani malam,
dan sinar bulan yang justru membuat bintang tampak tiada,
aku terasing dalam pusaran awan,
seperti jiwa yang ingin turun ke bumi namun tak mendapat izin dari takdir.

Kau adalah pembuat kerinduan,
bahkan auramu adalah bait-bait doa dalam diamku,
yang tak pernah kulafalkan lantang,
karena aku tahu ada batas sakral yang tak boleh kusentuh dengan sembarang rasa.

Namun entah doa macam apa yang layak terlantunkan
ketika kusadari bahwa rasa ini  sepenuhnya terlarang.

Cinta semacam ini bukan untuk diumumkan,
bukan juga untuk diperdebatkan,
tetapi untuk dipendam dalam ruang paling sunyi dari dada
tempat air mata dan keberanian saling berdamai.

Jika kelak dunia menuduhku sebagai penyimpan rahasia,
biarlah aku menerimanya tanpa sangkalan,
karena mencintaimu dalam diam adalah cara paling mulia
untuk tidak merobohkan apa yang telah disucikan oleh ikrar dalam altar

Biarlah hanya Tuhan yang tahu,
bahwa pernah ada satu hati
yang mencintaimu tanpa pernah meminta kembali.

(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 23: 47, 12/01/18 _Toto Cy)

 

Risalat yang Kusimpan Dalam Diam

 

Ingin kupegang ujung gaunmu,
agar jumput debu tak mengotorinya,
sebab dalam pandanganku kau bukan sekadar wujud,
melainkan kesucian rasa yang tak ingin kusentuh dengan kesalahan.

Namun aku hilang dalam balik bayang,
seperti waktu yang hanya lewat tanpa memiliki arti pada hidupmu.
Bukankah aku memang hanya detik yang singgah,
seperti angin yang datang tanpa izin dan pergi tanpa pamit?

Kaulah risalat yang menjadi teman dalam setiap doa–doa yang kusembunyikan,
risalat yang menjadikan satu dua kata menjelma syair yang tertata rapi dalam dada.
Kaulah chord yang menjadikan desir angin berubah menjadi sebuah nada,
yang membuat sunyi terdengar seperti lagu rahasia yang hanya diketahui oleh kita.

Dan kaulah risalat yang menjadikan aku pemuja dalam diam,
pemuja yang tidak diberi kesempatan untuk mengubah takdir,
namun masih diberi ruang untuk merasakan rindu yang tidak pernah retak.

Cinta ini memang tak harus memilikimu,
cinta ini hanya butuh kesempatan untuk tetap bernapas,
meski dalam bayang, meski dalam hening,
meski dalam jarak yang tak pernah bisa dititipkan pelukan.

Biarlah aku menjadi nama yang hanya kau temui dalam sunyi,
sebab mencintaimu sudah cukup menjadi alasan
bahwa aku pernah hidup — lebih dari sekadar waktu.

(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 23: 35, 08/11/25 _Toto Cy)

Mencintaimu dari Batas yang Tak Bisa Dipijak


Aku masih bersama angin yang membawa ingatan menggantung pada helai masa lalu.
Ujung dagumu masih membekas dalam rindu yang tak pernah sirna,
seperti tanda yang tertinggal di tepian jiwa,
tempat segala detik yang pernah kita jalani masih bernaung dalam hening.

Aroma tubuhmu masih bercerita,
tentang saat kau jatuh dalam pangkuan rasa yang pernah kita selimuti bersama,
meski kini semua itu telah retak menjadi bacaan sunyi yang tak berjudul.

Kau masih menjadi candu dalam rindu yang tak lekang oleh waktu,
dan aku ingin pergi bukan karena aku menyerah,
tetapi agar kau tahu aku pernah terbeban oleh rasa yang tak bisa kusampaikan tanpa getir.

Asmara ini tak mampu menjadikan permadani,
ketika dalam imajiku aku ingin menjadikanmu permaisuri,
namun aku sadar aku tak sanggup mencengkeram jemari
yang telah dihiasi oleh lingkar janji suci milik orang lain.

Karena ada batas yang tak boleh kita injak,
ada pilar yang tak bisa kita guncang,
meski hati masih ingin mengusik takdir.

Dan akhirnya 
aku merelakan segala asa untuk luruh,
bukan karena cinta ini mati,
tetapi karena ia terlalu hidup untuk dirusak oleh keinginan yang melawan suratan.

Biarlah aku pupus dalam asa,
namun tetap tumbuh dalam makna.

(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 10/12/17 _Toto Cy)

Hujan yang Kau Sisakan


Kaulah bait doa yang menghiasi goresan penaku,
risalahmu adalah kalimat terindah dalam bait-bait kata
yang menetes dari rongga ingatan paling senyap.
Kau kecup jemariku, dan aku mendekap,
ah, aku berhalusinasi lagi —
tentangmu, tentang kita, tentang kisah sumbang nan terlarang
yang perlahan tumbuh menjadi asa asmara
yang ingin sekali ku lupa.
Sanggupkah?

Malam menjadi penafsir rahasia yang tak berani kita ucapkan,
dan rindu adalah burung camar
yang terbang rendah di batas gelombang,
kadang ingin hinggap,
tapi sadar ia bukan pemilik pantai.

Kau hadir bagai musim yang tak sudi menetap,
namun selalu meninggalkan bau hujan dalam pori-pori dadaku.
Aku menyimpanmu dengan cara paling absurd:
di tengah denyut nadi,
di sela doa yang bahkan kuucap tanpa suara.

Engkau bukan sekadar nama,
kau adalah peristiwa batin yang tak mampu didefinisi,
sebuah perasaan yang tak ingin diakui
namun terlalu besar untuk diredam begitu saja.

Dan aku menyerah pada takdir yang tak bisa ditawar,
sebab cinta kadang bukan perkara memiliki,
melainkan perkara diam —
yang justru semakin membakar dari dalam.

Jika kelak waktu membalikkan kisah,
biarlah kebenaran ini tetap tersimpan:
bahwa kita pernah saling mengambil satu sama lain
meski tanpa menyentuh,
bahwa kita pernah saling memiliki
meski hanya di dalam dada.

(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 16/10/18 _Toto Cy)

Bait Sunyi dari Altar Tanpa Kubah


Kemarin saat kita bersama dalam satu waktu,
kau bisikan kerinduan yang tak pernah mampu kau lukis.
Gemuruh membuncah di dada kiriku
sementara malam menghantar diam,
aku terperangkap dalam pusaran gairah muda yang tak lagi muda,
korneamu bangkitkan aku dalam keinginan seutuhnya,
walau ku tahu kemuliaan telah melingkar dalam lentik jemarimu.

Malam mendadak menjadi altar yang tak berkubah,
dan kita berdoa tanpa bahasa,
hanya dengan sorot mata yang saling meneguk rahasia,
seperti dua pelaut yang bertemu di dermaga asing,
namun tak berhak menanyakan nama pelabuhan masing-masing.

Ada garis terlarang yang kita tahu tak boleh dilampaui,
namun getar–baris demi baris–menyucuk akal
seperti desir angin yang menguji nyala lampu.

Aku ingin menafsir ulang makna “saling merindu”
tanpa menodai apa pun yang telah disucikan waktu,
ingin menyelami samudera yang hanya boleh dipandang
namun tak boleh disentuh lebih dalam.

Dan di tengah semua itu,
aku adalah penjelajah yang tak punya peta,
yang hanya punya dada sebagai kompas,
serta sepasang mata yang tak berani lagi berlama-lama
menatapmu secara terang-terangan.

Karena ada cinta
yang dicipta bukan untuk dimenangkan,
melainkan untuk dipikul sebagai rahasia paling anggun:
cinta yang memudar di bibir,
namun justru abadi di dalam dada.

(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 08/11/25 _Toto Cy)

Lukisan Paling Sendu dalam Ruang Batin


Ah, kau tak tahu bidadari bermata indah
Aku harus berpura tabah
Aku bak cawan kosong saat kau hilang dalam bayang
Sungguh ini yang terdalam,
Walau ku tahu ini terlarang.

Malam adalah kitab sunyi yang tak pernah selesai kubaca,
dan engkau adalah ayat rahasia
yang kutandai dengan getar
namun tak pernah berani kucetak menjadi suara.

Aku menadah rindu seperti embun menadah cahaya,
menyimpan rahasia di lipatan dada
seperti kelopak mawar yang terluka
tetapi tetap memilih tampak indah.

Kau adalah desir jauh yang menabuh kalbu,
seperti angin yang tak dapat kusentuh
namun selalu kubiarkan menampar kesadaranku.

Sejak mengenalmu,
aku belajar bahwa ada cinta
yang tak boleh menyebut nama dirinya sendiri,
ada rasa yang hanya boleh menjadi asap
bukan api yang berkobar.

Dan aku adalah pecahan langit
yang memilih jatuh sebagai bintang jatuh diam-diam,
tanpa bunyi, tanpa tepuk tangan,
tanpa perlu saksi menyaksikan retaknya.

Aku ikhlas menjadi rahasia
yang hanya bernafas di balik retina,
karena aku tahu
tak setiap cinta dicipta untuk bersanding,
ada cinta yang hanya dilahirkan
untuk menjadi lukisan paling sendu dalam ruang batin.

Karena yang paling bersinar
kadang justru yang paling tak boleh disentuh.

(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 08/11/25 _Toto Cy)

Cinta yang Mengalir dalam Altar Berbeda


Akulah pengelana waktu yang tak surut langkah dalam memandang.
Akulah lembayung bimbang yang berdiri di antara surya dan temaram cakrawala.
Akulah lelaki yang mencinta dalam batasan,
yang hanya mampu menatap rasa dari balik tirai doa dan ikrar yang telah lebih dulu terpatri.

Kita adalah budak hati dari genderang dewa–dewi asmara,
terpanggil oleh getaran yang tak pernah bisa dicegah,
meski takkan ada kepastian kita dapat menyatu dalam segala rasa.

Sebab pada jarimu ada ikatan suci yang membatasi,
dan pada jariku juga ada lingkar asa yang telah diucap dalam altar janji bersama.
Semesta menjadi saksi bahwa dua rasa yang saling menyapa
tidak selalu diberi izin untuk menjadi satu cerita.

Namun bukankah cinta tak selalu tentang memiliki?
Sebab terkadang, cinta justru menjadi lebih abadi
ketika ia dijalani dalam batas yang tak tergapai,
ketika ia menjadi rahasia yang hanya dipahami oleh dua dada yang mengerti arti diam.

Kita adalah sang pecinta tanpa kepastian menjadi satu dalam rasa,
namun kita tetap berjalan bersama pada garis takdir yang berbeda jalur.
Karena cinta bukan sekadar akhir cerita
melainkan perjalanan batin yang mematangkan jiwa.

Jika kelak kita menjadi dua legenda yang hanya dikenang oleh kenangan,
setidaknya kita pernah menjadi dua cahaya
yang saling memberi arti walau jarak tak mengizinkan untuk menyatu.

Dan dalam segala sunyi itu,
cinta tetap menjadi saksi —
bahwa kita pernah saling memahami lebih dalam dari sekadar kata.

 

Sabtu malam 08/11/25 (Toto Cy)

Risalah dari Kata Cinta


Aku kan datang dengan cinta yang tak terkata,
aku kan kembali dengan jiwa yang sama,
sebab rasa ini tidak berubah hanya karena waktu mencoba mengganggu.

Cinta adalah aliran air yang tak pernah surut;
ia tak akan berhenti meski batu menghalangi.
Ia merayap perlahan, mengalir sabar, mengikis keras yang menutup jalan,
hingga menjadi keindahan dalam diam 
karena diam pun memiliki cara sendiri untuk menyampaikan rindu.

Baiklah, apapun itu, kau tetap bersemayam dalam sukma.
Walau nyatanya ada jeda waktu berbeda,
cinta ini datang terlambat dari kata-kata,
namun ia tetap tumbuh di tempat paling sunyi,
tempat yang tidak diketahui siapa pun kecuali aku dan takdir.

Cinta ini membentuk saat ikrar tak lagi bisa diucap,
ada dua dinding yang membentang sebagai pemisah kata,
dan aku hanya memandangmu 
mencintaimu dengan cara yang sederhana namun begitu dalam.

Aku menyentuhmu tanpa seutuhnya bisa aku miliki,
dan mungkin itulah alasan cinta ini semakin terasa hidup:
karena tidak semua rasa harus memiliki ruang untuk menjadi nyata.

Maka biarlah ini terukir sebagai risalah dari kata cinta,
risalah dari hati yang pernah memilih,
meski kenyataan tidak memberi izin untuk menyempurnakannya.

Sabtu malam 08/11/25 (Toto Cy)

Catatan Waktu yang Tak Pernah Usai

 


Catatan waktu yang tertinggal masih membekas dalam ingatan yang tak pernah selesai menyusun jeda.
Kau masih menghiasi sebagian hati yang tak pernah berhenti merindu,
karena namamu adalah garis halus yang tak bisa dihapus oleh pergantian hari.
Dalam setiap pandangan ini menembus cakrawala, aku menemukan kembali bayanganmu,
seakan jarak hanya permainan ruang yang tak mampu meruntuhkan rasa.

Kau adalah kehidupan yang terlewati tanpa pernah mati,
meski kita tak lagi berjalan pada jalan yang sama.
Ada percikan keabadian di balik langkah yang pernah berdampingan,
dan itu cukup untuk membuat semesta kecil dalam dadaku tetap menyala.

Memilikimu adalah kembang impian —
indah, rapuh, dan tak selalu bisa dipetik kapan saja.
Ada bahagia yang tumbuh dari sekadar mengingat,
ada rindu yang jatuh perlahan seperti hujan yang takut mengganggu bumi.

Kenyataannya ini hanya cinta,
dan cinta tak selalu harus memiliki ruang untuk menggenggam tanganmu.
Kadang, ia cukup menjadi pengunjung setia dalam kepala,
yang datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa pamit —
namun meninggalkan aroma lembut yang tak pernah pudar.

Aku menyukaimu dengan kata-kata,
karena kata adalah tempat paling aman untuk menyimpan wajahmu,
ketika dunia tak memberi izin untuk menyentuhmu.

 

Sabtu malam 08/11/25 (Toto Cy)

Segenap Kata Hati yang Tak Pernah Sirna



Aku mencintaimu dengan segenap kata hati yang tidak akan pernah sirna.
Karena cinta ini bukan sekadar kesukaan yang lahir dari pandangan mata,
melainkan getar sunyi yang tumbuh dari kedalaman jiwa,
seperti akar yang mencari air bahkan di tanah paling kering sekalipun.

Aku mencintaimu bahkan sampai malam menggantikan pendar mentari siang tadi;
sebab bagiku, rotasi waktu hanya pergiliran cahaya,
bukan pergiliran rasa.

Aku mencintaimu walau sungai sanggup menenggelamkan secawan air;
sebab kesetiaan bukan tentang jumlah atau luasnya ruang,
melainkan tentang bagaimana tetes tetap ingin menjadi lautan,
walau ia sendiri begitu kecil, bahkan nyaris tak terlihat.

Ketika kayu terbakar, api akan menghabisinya hingga menjadi abu,
namun biarkan aku tetap merindu meski hanya sejumput abu tersisa;
karena yang tersisa bukanlah benda, tapi kenangan,
dan kenangan adalah cenderamata dari perasaan yang pernah menjadi nyata.

Cinta ini mungkin tak selalu harus lantang,
kadang ia hanya perlu tenang,
diam, mengendap dalam kalimat yang tak diucap,
seperti air mata yang tak jatuh namun terasa basah di dalam dada.

Aku mencintaimu bukan untuk dipuji dunia,
namun agar dunia tahu,
bahwa ada satu hati yang setia,
meski seluruh semesta tampak berubah arah.

Dan itu adalah aku.
Yang tetap memilih kamu.

Sabtu malam 08/11/25 (Toto Cy)