Kaulah bait doa yang menghiasi goresan penaku,
risalahmu adalah kalimat terindah dalam bait-bait kata
yang menetes dari rongga ingatan paling senyap.
Kau kecup jemariku, dan aku mendekap,
ah, aku berhalusinasi lagi —
tentangmu, tentang kita, tentang kisah sumbang nan terlarang
yang perlahan tumbuh menjadi asa asmara
yang ingin sekali ku lupa.
Sanggupkah?
Malam menjadi penafsir rahasia yang tak berani kita ucapkan,
dan rindu adalah burung camar
yang terbang rendah di batas gelombang,
kadang ingin hinggap,
tapi sadar ia bukan pemilik pantai.
Kau hadir bagai musim yang tak sudi menetap,
namun selalu meninggalkan bau hujan dalam pori-pori dadaku.
Aku menyimpanmu dengan cara paling absurd:
di tengah denyut nadi,
di sela doa yang bahkan kuucap tanpa suara.
Engkau bukan sekadar nama,
kau adalah peristiwa batin yang tak mampu didefinisi,
sebuah perasaan yang tak ingin diakui
namun terlalu besar untuk diredam begitu saja.
Dan aku menyerah pada takdir yang tak bisa ditawar,
sebab cinta kadang bukan perkara memiliki,
melainkan perkara diam —
yang justru semakin membakar dari dalam.
Jika kelak waktu membalikkan kisah,
biarlah kebenaran ini tetap tersimpan:
bahwa kita pernah saling mengambil satu sama lain
meski tanpa menyentuh,
bahwa kita pernah saling memiliki
meski hanya di dalam dada.
(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 16/10/18 _Toto Cy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar