Sabtu, 08 November 2025

Mencintaimu dari Batas yang Tak Bisa Dipijak


Aku masih bersama angin yang membawa ingatan menggantung pada helai masa lalu.
Ujung dagumu masih membekas dalam rindu yang tak pernah sirna,
seperti tanda yang tertinggal di tepian jiwa,
tempat segala detik yang pernah kita jalani masih bernaung dalam hening.

Aroma tubuhmu masih bercerita,
tentang saat kau jatuh dalam pangkuan rasa yang pernah kita selimuti bersama,
meski kini semua itu telah retak menjadi bacaan sunyi yang tak berjudul.

Kau masih menjadi candu dalam rindu yang tak lekang oleh waktu,
dan aku ingin pergi bukan karena aku menyerah,
tetapi agar kau tahu aku pernah terbeban oleh rasa yang tak bisa kusampaikan tanpa getir.

Asmara ini tak mampu menjadikan permadani,
ketika dalam imajiku aku ingin menjadikanmu permaisuri,
namun aku sadar aku tak sanggup mencengkeram jemari
yang telah dihiasi oleh lingkar janji suci milik orang lain.

Karena ada batas yang tak boleh kita injak,
ada pilar yang tak bisa kita guncang,
meski hati masih ingin mengusik takdir.

Dan akhirnya 
aku merelakan segala asa untuk luruh,
bukan karena cinta ini mati,
tetapi karena ia terlalu hidup untuk dirusak oleh keinginan yang melawan suratan.

Biarlah aku pupus dalam asa,
namun tetap tumbuh dalam makna.

(Kar’na kata-kata Adalah senjata penghias masa Sabtu malam 10/12/17 _Toto Cy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar